Welcome to Yajodha!

You will come to this blog http://sinopsisjodhaakbar.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction -FF Jodha Akbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction -FF Jodha Akbar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

Aku Ratumu juga Pelayanmu by Fatimah Zahra

18.34 ARFARI

Aku Ratumu juga Pelayanmu by Fatimah Zahra.  Ketika Jalal mengetahui Shivani kabur dengan lelaki lain di hari pernikahannya dengan Mirza Hakim, Jalal sangat marah. Ia tidak tega melihat  Mirza Hakim kecewa dan terluka.  Dan ini semua karena ulah keluarga Jodha. Berkali-kali Jodha berusaha menemui Jalal untuk meminta maaf, tapi Jalal menolak bertemu denganya. Ketika mereka tidak sengaja bertemu pun, Jalal segera berlalu dan tidak memperdulikannya. Jodha sangat terluka, walaupun ia tidak menyadari apa yanag terjadi di dalam hatinya, tapi ia sangat tersakiti dengan diamnya Jalal. Bahkan ketika suatu hari Jodha memaksa masuk ke kamar Jalal, Jalal seolah-olah tak perduli akan kehadiran Jodha. Jodha mencoba memecahkan kebisuan dengan memberi salam, �Pranaam, shahenshah.� Tapi Jalal tidak menjawabnya. Jodha melanjutkan, �Shahenshah, kalau kau ingin memarahiku silahkan, berteriaklah padaku seperti biasa bila aku membuat kesalahan, tapi tolonglah jangan mendiamkan aku seperti ini, shahenshah. Diam mu membunuhku dari dalam. Tolong katakan apa yang harus kulakukan untuk meminta maaf atas kesalahan adikku dan keluargaku? Aku seorang Rajvansi shahenshah, lakukan apa saja padaku, aku akan menahannya.� Jalal menatap Jodha dengan penuh kebencian, ia menghabiskan minumnya dan segera berdiri menghadap Jodha, �Kau menantangku Ratu Jodha?� Jalal mendekatkan wajahnya ke wajah Jodha, Jodha tidak menarik wajahnya sedikitpun jodha akbar 76cdan memandang lurus ke mata Jalal. Jalal melanjutkan, �Lakukan apapun yang kau mau, Ratu Jodha. Aku tidak peduli. Aku sangat membencimu. Tapi aku terpaksa harus menerimamu sebagai takdirku, sejak kau datang dalam hidupku, tidak pernah sekalipun dapat tidur lelap. Kau selalu membuat ulah, kau selalu mengganggu ketenanganku. Hidup bersamamu hanya menciptakan masalah demi masalah. Jadi mulai hari ini, terserah kau mau melakukan apa, aku tidak akan menganggapmu ada. Ini terakhir kali aku bicara padamu, tinggalkan kamarku segera.�

Jalal meninggalkan Jodha, dan berjalan ke arah jendela. Untuk sesaat Jodha seperti berhenti bernafas, otaknya tidak dapat berfikir, badannya kaku. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan berkata, �Baiklah shahenshah, kau tidak akan menganggapku ada mulai hari ini, tapi tolong penuhi permintaanku yang satu ini,� Jodha menarik nafas sejenak dan berkata, �Mulai hari ini aku akan menjadi pelayanmu, aku akan melakukan semua tugas yang dilakukan pelayanmu, aku tidak akan merasa lelah dan mengeluh, kau boleh menganggapnya sebagai hukuman untukku, tapi aku akan selalu patuh pada perintahmu. Prenaam.�  Jalal memandang Jodha yang berlalu dari kamarnya, ia berkata dalam hati �ooh tidak, ratu Jodha. Kau tidak akan tahan, aku akan memastikan kau tidak akan tahan dengan siksaanku!� Jalal menyeringai licik.

Jodha kembali ke kamarnya dan menceritakan semuanya kepada Moti, Pecahlah tangis Jodha, dan Moti pun memeluknya, �Bertahanlah, Jodha. aku tahu aku pun tak bisa menghentikanmu, aku akan selalu membantumu mengerjakan tugas-tugas dari Kaisar.� Jodha dengan cepat menutup mulut Moti, �Tidak Moti, kau tidak boleh ikut campur, aku tidak akan tahan jika Kaisar melampiaskan kemarahannya padamu, kali ini aku akan menahannya, aku tidak akan membantahnya.� #sinopsisjodhaakbar.blogspot.com

Keesokan harinya, Jodha tetap menjalankan rutinitas paginya berdoa pada Kanha dan melakukan puja di depan pohon tulsi. Jodha melihat Kaisar sedang berlatih pedang, ia pun bergegas menyelesaikan pujanya, ia tau Kaisar tidak akan menerima Aarti-nya. Karena sejak beberapa hari yang lalu Kaisar sama sekali tidak memperdulikannya. Jodha menarik nafas panjang. Ia berjalan ke arah pelayan yang biasa membawakan handuk dan baskom ketika jalal selesai berlatih. Dari sudut matanya Jalal menyadari kehadiran Jodha, Jodha pun berdiri tepat disamping Jalal, Jodha menyapanya, �Prenaam , Shahenshah, aku tahu kau sudah selesai berlatih, silahkan cuci tanganmu dulu.� Jodha mengatakannya dengan sangat ceria, seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara mereka. Jalal menyerahkan pedangnya ke prajurit dan berkata �Takliyaa�.� Jalal mencuci tangan dan mukanya kemudian melap nya dengan handuk. Jodha berkata,�aku sudah menyiapkanmu sarapan, kau pasti sangat lapar.� Jalal berkata, �apa yang membuatmu yakin aku akan memakannya?� Dengan percaya diri Jodha berkata �kau tidak akan melakukannya shahenshah, karena aku juga mengajak ibumu  untuk makan bersama kita.� Dengan terkejut Jalal berkata � Apaa??�

Terdengar suara hamida mengomentari keterkejutan jalal  dari arah yang lain, �Kenapa kau terkejut Jalal, aku senang sekali ketika Jodha mengatakan dia akan menyiapkan sarapanmu hari ini, mari masuk.� Jalal menatap Jodha dengan geram, dan Jodha hanya tersenyum dan menutupi senyumnya dg dupatta. Pagi itu Jalal menghabiskan makanannya dengan terpaksa. Sesekali ia melihat ke arah Ibunya yg tersenyum senang. Apa lagi yang kau rencanakan Jodha Begum? Jalal memandang ke arah Jodha dan Jodha tersenyum seakan mengerti apa yang dipikirkan Jalal. Setelah selesai makan ia pun berpamitan pada Ibunya untuk mandi karena akan segera menjalankan kewajibannya di Dewaan e khaass. Ketika Jalal akan mandi, tiba-tiba Jodha masuk dan menyuruh para pelayan pergi. Jalal tersenyum licik melihatnya, �kemarilah Ratu Jodha, aku tau kau akan melayaniku juga pada rutinitasku yang satu ini.� Jodha mulai membasuh tangan jalal dengan air, dan mengambil bejana berisi susu, ia segera menyiramkannya ke tubuh jalal. Jodha berdiri setengah membungkuk dan tidak menyadari bahwa dupatanya terinjak olehnya, ketika ia akan melangkah ke samping ia pun terpeleset dan jatuh ke bak mandi. Jalal segera menangkapnya. Separuh badannya sudah masuk ke dalam air, jodha terkejut sesaat. Jalal tersenyum menang dan berkata, �jadi ini bagian dari rencanamu juga Ratu Jodha ? wow! Kau sangat berbakat.� Jodha tidak kalah jahilnya, �tentu saja shahenshah, bukankah para pelayanmu melakukannya juga padamu? Aku akan mulai mengosok punggungmu, tanganmu, dadamu dan.....� Jodha berhenti sejenak melihat reaksi Jalal. Jalal membulatkan matanya dan segera berbalik, �Aku rasa aku sudah selesai mandi, Ratu Jodha. Kalau tidak aku akan terlambat ke Dewaan e Khass, aku tidak suka melihat rakyatku menunggu.� Jalal mengatakannnya dengan setengah gugup. Jodha menyahut, �Heemmh, baiklah shahenshah. Kita akan melakukannya lain kali.� Dalam hati Jodha tertawa kegirangan, kau tidak akan berhasil mengerjaiku Kaisar, aku tau walaupun katanya kau itu kejam tapi kau itu sangat polos, kau tidak akan berani menyentuhku tanpa seijinku. Jodhapun segera berlalu dari kamar mandi itu, kembali ke kamarnya dengan pakaian setengah basah.

Jodha sudah berganti pakaian memakai riasan lengkap dan terlihat cantik seperti biasanya. Sebelum bersama-sama dengan Jalal ke DEK, Jodha berbelok menuju kamar Kaisar para pelayan sedang memakaikan baju dan perhiasan Kaisar, melihat kehadiran Jodha, Jalal terkejut dan jahitan dipangkal tangannya robek karena terburu-buru memasukan tangannya. Jalal pura-pura memarahi pelayannya dan menyuruhnya mengambilkan baju yang lain. Jodha menyela, �tidak usah! Itu akan memakan waktu lagi, Yang Mulia dan kau akan terlambat. Aku akan menjahitnya sebentar, dan kau tidak usah melepaskannya.� Jodha mengambil jarum dan benang yang di bawa pelayan, ia pun mulai menjahit robekan tadi. Jalal dan Jodha sangat dekat sekali, hingga jalal dapat mencium wangi tubuh Jodha. Untuk sejenak dia terpesona akan kecantikan Jodha. Ingin rasanya menyentuh wajahnya yang lugu itu. Jodha merasa jengah berdekatan dengan Kaisar, ia pun segera menyelesaikan jahitannya. Kata Jodha, �sudah selesai, Yang Mulia.� Jalal terkejut dan lamunannya pun buyar. Jodha berkata, "jangan coba berkata ~kau berbakat juga dalam hal menjahit Ratu Jodha~" Jodha menirukan suara Jalal, dan Jalal berpaling menyembunyikan senyumnya. Jodha melanjutkan, �semua pelayan akan bisa melakukannya, Shahenshah. Jangan terlalu terkejut.� Jodha memakaikan turban dan perhiasan Kaisar. Jalal masih terdiam dan bermain dengan pikirannya sendiri .Selama dalam perjalanan ke DEK, ia berfikir ia harus segera mengakhiri permainan Ratu Jodha, kalau tidak ia sendiri yang akan terjebak.

Hari-hari setelah itu jodha masih terus melayani Jalal layaknya seorang pelayan setia. Hingga suatu hari Kaisar menyuruh Jodha untuk menemaninya juga pada malam hari. Jodha terkejut menerima perintah itu, ia berfikir untuk menghindar dengan alasan sakit. Tapi ia mengutuk dirinya sendiri karena berpikir terlalu jauh. Mungkin Kaisar hanya akan menyuruhnya menemani bermain catur atau menyuruhnya menyanyikan lagu pengantar tidur. Setelah menepis kekhawatirannya. Jodha setuju untuk pergi menemani Jalal malam ini.

Dikamar, Jalal sudah menunggunya, ia berdiri di samping jendela. Mendengar suara gelang kaki Jodha, Jalal menyapa  sambil tetap memandang keluar jendela, �Masuklah Ratu Jodha, aku sangat terkejut kau mau datang, mengingat harga diri dan ego mu yang sangat tinggi.� Jalal kemudian membalikan badan dan  menatap Jodha, dia sangat terkejut dengan kesederhanaannya malam ini. Jodha hanya memakai pakaian yang sederhana, dengan riasan seadanya, dan rambut yang tergerai lepas. Tapi itu malah menampilkan kecantikan yang sesungguhnya, hati Jalal bergetar. Dan untuk sementara waktu dia terdiam memandang Jodha tak tau harus berkata apa.

Jodha seakan tau apa yang dipikirkan Jalal, segera menjawab, �Sebenarnya aku sudah akan tidur ketika pelayan menyampaikan pesanmu, maafkan aku karena aku munculdi hadapanmu seperti ini. Lagipula sebagai pelayan aku tidak membutuhkan semua itu kan? Jadi katakan apa yang inginkan dariku?� Sebenarnya Jalal agak terganggu dengan kata-kata �Pelayan� seolah-olah Jodha berpikir bahwa seperti itulah Jalal memperlakukan pelayan-pelayannya. Jalal sangat terluka, untuk kesekian kali Jodha merendahkan moralnya. Dengan agak keras dia berkata pada Jodha, "bukalah perhiasanmu dan tidur bersamaku malam ini, Ratu Jodha." Jalal mengira Jodha akan membantah perintahnya, tapi ia terkejut sendiri ketika melihat Jodha melepaskan perhiasannya dan beranjak ke tempat tidur. Jodha tidak berkata apapun, ia hanya menurut dan melakukan yang di katakan Jalal. Jalal mulai berpikir ada apa di balik sikap penurutnya malam ini. Jalal ingin tahu dan segera menyusul Jodha ke tempat tidur, tanpa berkata apapun ia mulai memegang tangan jodha, dan menciumnya. Jalal menunggu reaksi Jodha , jodha menutup matanya dan memalingkan wajahnya, jalal meraihnya dan mengarahkan wajah Jodha kepadanya, jalal membelai rambut Jodha dan turun ke wajahnya. Jalal dapat melihat wajah sedih Jodha, ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Jodha, Jodha tidak sanggup melihat Jalal dan memejamkan mata. Dengan suara lirih Jalal bertanya, � Mengapa kau mau melakukan ini , Ratu Jodha? Ini bertentangan dengan harga diri dan kehormatannmu yang selama ini kau agung-agungkan.� Jodha menjawab, �aku hanya pelayanmu, shahenshah. Dan pelayan melakukan apapun perintah tuannya.� Jalal mulai kesal dan marah, �Jadi begitukah selama ini kau memandangku, kau menganggap rendah moralku, menganggap aku tidak adil pada hidupmu? Tapi bukankah kau tau, Ayahmu yang memintaku menikahimu, ayahmu yang menawarkanmu padaku demi menyelamatkan saudara-saudaramu dan rakyatmu. Dan kau pun menyetujuinya, apa salahku sampai kau membenciku sebesar itu? Baiklah aku memang kejam, aku mungkin tidak punya hati, tapi pernahkah kau berpikir, aku juga memenuhi segala yang kau mau, aku menyelamatkanmu dari penghinaan orang-orang yang aku sayangi, aku menyelamatkanmu dari dunia, tapi tidak ada satupun yang kau lakukan dengan tulus kepadaku ?� Jalal berhenti sejenak, suaranya mulai parau, antara sedih dan kecewa, Jodha terkejut mendengar kebenaran perkataan Jalal. Jodha berpikir, " Apakah aku sekejam itu, wanita Rajvanshi rela mati untuk suami dan keluarganya, tapi Kaisar menganggapku serendah itu , hanya karena aku blm siap menyerahkan diriku seutuhnya padanya? Mengapa selalu perempuan yang harus bertanggung jawab demi keutuhan keluarga.� Jalal dengan suara tegas berkata, "Kau boleh memutuskan Pernikahan ini, kalau kau mau, ratu Jodha. Aku membebaskanmu! Kalau kau sangat tersiksa hidup bersamaku , aku mengizinkamu untuk berlalu dari hidupku!.� Jalal sudah akan beranjak dari tempat tidur tapi Jodha menahan tangannya, �Tunggu yang mulia, kau juga harus mendengarkanku, sekali dalam hidupku aku pernah mencintai seorang pria , dan demi bangsa, aku harus merelakan nyawanya. Demi keluargaku dan saudara2 lelakiku, aku harus meninggalkan tanah kelahiranku Ameer, tidak mudah bagiku menerimamu yang Mulia. Aku tahu mungkin bagimu terlihat sangat mudah. Dan saat ini demi menebus kesalahan shivani dan keluargaku, aku harus kembali membuang harga diriku dan menelan kebanggaanku, tapi kau merendahkanku dengan semua pengorbananku, kau tidak cukup sabar untuk memenangkan hatiku. Tapi baiklah secara tidak langsung kau telah mengusirku Yang Mulia, aku berterimakasih padamu, kau telah menjaga kehormatan keluargaku, aku berjanji aku tidak akan menyusahkanmu lagi mulai saat ini. Aku permisi. Prenaam.� Tanpa menoleh lagi, Jodha meninggalkan kamar Jalal. Hatinya sedih, remuk redam, dengan mudah kaisar menihilkan segala pengorbanannya, ia tidak cukup kuat untuk tidak menangis. Setengah berlari ia kembali ke kamarnya.

Setelah beberapa saat Jalal tersadar, ia berlari mengejar Jodha, Jodha berlari ke taman, beberapa prajurit mulai mengejarnya. Seakan sudah menjadi salah satu keahliannya untuk kabur dari istana , ia pun dengan mudah melewati penjagaan di pintu gerbang. Dengan mengendarai kuda salah satu prajurit, jodha melesat menuju hutan. Jalal segera memerintahkan prajurit mengambil kudanya, ia akan mencari Ratu Jodha sendiri. Jodha terjatuh dari kudanya dan berlari menuju sungai, ia sudah tidak tahan dengan segala penderitaanya, ia sudah akan melompat kalau saja Jalal terlambat menahan tubuhnya. �Tunggu Ratu Jodha! Kau memang sangat keras kepala. Sekali saja dalam hidupmu, tolong dengarkan aku!� Jalal membalikan tubuh Jodha, memegang wajahnya dan berkata, �kau mungkin tidak punya cinta untukku, tapi aku punya banyak cinta mu.  Aku akan menunggumu sampai kapanpun Ratu Jodha. Jadi  tolong dengarkan aku, berjanjilah untuk tidak menyakiti dirimu sendiri. Karena jika kau melakukan itu, kau bukan hanya melukai dirimu tapi juga menyakiti aku. Kau mau berjanji bukan? Kalau kau belum siap menerimaku, aku siap menunggumu.� Jodha menangis di pelukan Jalal, Jalal pun menangis menyadari cintanya yang begitu besar kepada Jodha. #Fatimah Zahra

Minggu, 16 November 2014

Membeku dalam Duka bag 3 by Kay Elle

17.15 ARFARI

Membeku dalam Duka bag 3 by Kay Elle.  Jodha menatap Moti dengan tatapan bingung.  Tak tahu harus bagaimana. Jalal memintanya pergi ke kamarnya. Tapi dia merasa enggan. Bukan hanya enggan, tapi juga takut. Perasaan takut yang belum pernah di rasakannya selama ini. Bahkan rasa takut saat harus minum racun Benazir, tidak sebesar ketakutannya sekarang. Moti yang melihat wajah pucat Jodha bertanya, "Jodha, kenapa? Apa yang kau takutkan?" Jodha mendesah,  "aku takut menyakiti yang mulia tanpa kusengaja. Yang Mulia sangat sensitif. Dengan perasaan tak menentu seperti ini aku merasa akan lebih baik kalau tidak menemuinya. Oh Moti, aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menemuinya...!" Moti menggenggam tangan Jodha, mencoba menenangkannya.

Tiba-tiba terdengar suara, "Siapa yang tak ingin kau temui, Ratu Jodha?" Moti dan Jodha menoleh kearah pintu secara bersamaan. Jalal sedang melepas sepatunya dan melangkah masuk. Jodha dan Moti saling padang. Jalal dengan wajah di buat-buat kesal menatap moti dan menegurnya, "bukankah aku menyuruhmu meminta Ratu Jodha datang ke kamarku, Moti? Apakah kau tidak menyampaikan pesanku itu?" Moti dan Jodha saling padang. Kata Moti, "tapi yang mulia, anda baru pergi bebera saat yang lalu. Aku baru akan memberi tahu Ratu Jodha..."

sinopsisjodhaakbar.blogspot.com fansfictionaJalal menatap Jodha dengan tatapan penuh selidik, "ya.. itulah yang kurasakan. Aku baru pergi beberapa saat saja, dan itupun aku hanya berdiri di depan kamarmu ini, lalu bagaimana ratu Jodha yang kau katakan sedang pergi keluar bisa tiba-tiba ada di dalam kamar ini? Apakah dia bisa menghilang?" Moti menatap Jodha sambil menahan senyum. Sementara Jodha terlihat tegang, tapi percayalah, jika dalam suasana hati yang utuh, gurauan Jalal itu pasti akan membuatnya tersenyum lebar. Jalal menunggu Moti mengatakan sesuatu padanya. Tapi Jalal tahu, Moti sangat setia pada Jodha, dia pasti akan melakukan segala cara untuk melindunginya. Lalu dengan tak sabar Jalal berkata, "Takliyah". Moti akan melepas genggaman tangan Jodha, tapi Jodha malah mempererat pegangannya sambil menatap moti dan menggeleng.  Jalal dengan nada mengancam berkata, "Moti, apakah kau berani melawan perintah raja?"  Mendengar itu, Moti melepas paksa pegangan Jodha dan beranjak pergi. Jalal menatap Jodha dengan tatapan geram yang di paksakan. Dia melangkah mendekati Jodha, refleks Jodha melangkah mundur menjauhinya. Melihat itu Jalal menghentikan langkahnya dan menatap Jodha dengan tatapan tak mengerti. Keduanya saling bertatapan seperti saling memperhitungan gerakan masing-masing.

Jodha mencoba tersenyum, meski terlihat sekali kalau dipaksakan, lalu membalikan badan. Sebelum Jodha sempat melangkah, Jalal sudah melompat untuk memeluknya dari belakang.  Jodha dengan cepat menepis tubuh Jalal dan berteriak histeri, "jangan sentuh aku!"  Jalal terkejut dan mematung tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dan di dengarnya. Jodha sendiri tak kalah terkejutnya.  Dengan perasaan bersalah dia menatap Jalal, bibirnya mengerimit terbuka mengucapkan kata maaf yang hampir tidak terdengar. Jalal masih berdiri mematung dengan raut wajah terluka dan kecewa.

Jodha menarik nafas, menahannya beberapa saat lalu dengan perlahan dia menghembuskannya. Dengan cara itu beban di dadanya terasa lebih ringgan dan keberaniannya naik kepermukaan. Jodha mendekati Jalal, tapi tidak cukup dekat untuk dapat menyentuhnya. Dengan penu sesal Jodha berkata, "karena itulah aku tidak mau menemuimu yang mulia. AKu tidak ingin menyakitimu dan membuatku terluka." lalu sambil menundukan mata, tak berani menatap Jalal, Jodha berkata, "aku ....aku membencimu!"  Suara jodha sangat lirih tapi efeknya seperti dentuman meriam di telinga Jalal. Dengan ragu-ragu Jalal bertanya, "apa maksudmu?"

Jodha selalu merasa bicara terbuka dan terus terang adalah lebih baik dari pada menyembunyikan hal yang sebenarnya. Karena itu dengan gamblang dia mengatakan perasanya pada Jalal. Rasa sakit hatinya karena perlakukan Jalal ketika dia bersandiwara dengan pura-pura tergila-gila pada Atifa masih membekas. Jodha mengatakan kalau dia tak bisa melupakannya. Setiap kali dia melihat jalal, dia teringat semua perkataan kasar dan penghinaan yang di terimanya di hadapan orang banyak.

Jalal dengan nada sesal berkata, "tapi itu hanya sandiwara, Ratu Jodha." Jodha menyahut, "apakah karena itu hanya sandiwara lalu hatiku tidak terluka yang mulia? kata-kata yang kau ucapkan saat itu telah membuat hatiku hancur berkeping-keping.  Kau mengghinaku, mempermalukan aku dan....kau.. kau bakhan berkata akan menceraikan aku..."  Jalal berkata, "aku mengatakan itu semua agar musuhku tidak mendekatimu. Dengan mengetahui kalau aku tidak lagi menyukaimu, tidak lagi memperhatikanmu, maka mereka tidak akan memperhitungkan keberadaanmu. Aku hanya ingin melindungimu dan anak kita..."

Jodha dengan penuh kesadaran berkata kalau dia tahu apa tujuan Jalal, tapi hatinya terlanjur hancur berkeping-keping, "dan untuk merekatkan kepingan-kepingan itu aku butuh waktu. Aku mohon...berilah aku waktu! " Jalal dengan penuh pengertian bertanya, "apa yang kau inginkan dariku?" Jodha dengan ragu-ragu berkata, "jangan menemui aku, jangan menyentuhku, jangan...." Dengan marah Jalal berkata, "kau tau apa yang kau minta, Ratu Jodha? kau telah menghinaku dengan mengatakan itu!"  Jodha dengan kalem menyahut, "aku hanya mengatakan apa yang kuinginkan. Kalau kau menyakitiku untuk melindungiku, akupun melakukan ini untuk menjaga perasaanmu. Aku tidak ingin kau terluka dan tersakiti karena perlakuanku dan menduga-duga penyebabnya hingga timbul salah paham lagi. karena itu aku mengatakan semua ini padamu.  Aku tidak tahu apa yang ku rasakan saat ini, yang mulia. Tapi satu yang pasti, aku tak ingin melihatmu."

Jalal dengan pasrah berkata, "baiklah. Sampai kapan kau tak ingin menemuiku?"  Jodha menyahut, "sampai aku datang sendiri padamu.." Jalal bertanya lagi, "kapan itu?" Jodha menggeleng.  Jalal mengejar, "kalau sampai kau tidak ingin melihatku selamanya?" Jodha dengan sedih berkata, "aku akan meninggalkan Agra!" Jalal terhenyak mendengarnya, "itu tidak akan terjadi! Aku tak kan membiarkanmu pergi!" Jodha ikut sedih melihat Jalal sedih. Mata Jalal berkaca-kaca, tapi dia coba menyembunyikannya. Lalu dengan lembut dia berkata, "bolehkah aku memelukmu.... sekali lagi?" Jodha dengan ragu-ragu mengangguk.  Jalal melangkah mendekat. Jodha menguatkan diri untuk berdiri diam di tempat. Jalal segera meraih tubuh Jodha dan memeluknya... lama. Jalal menunggu Jodha membalas pelukannya. Tapi Jodha hanya berdiri kaku dalam dekapannya. Jalal melepas pelukannya, menatap Jodha dengan penuh kasih sayang dan kerinduan, seperti akan meninggalkannya untuk waktu yang sangat lama.  Jalal mencium kening Jodha lalu membalikkan badannya hendak melangkah pergi. Tapi Jodha memanggilnya, "yang mulia...!"  Jalal membalikan badan dengan cepat dan menatap Jodha dengan penuh harap. Jodha memberitahu jalal kalau Hamida menyuruhnya ikut ke Ajmer sharif, "aku tidak ingin pergi denganmu, Yang mulia. Tapi aku tidak berani mengatakannya pada ibu..." Jalal dengan kecewa mengangguk, "aku yang akan mengatakannya!"   Jodha melipat tanganya di dada dan mengucapkan terima kasih. Melihat itu Jalal segera pergi meninggalkannya.

Sepeninggal Jalal, Jodha terduduk di sofa. Ada perasaan lega bercampur bingung menyelimuti hatinya. Moti bergegas menemuinya dengan sedih, "apa yang kau katakan pada yang Mulia, Jodha? Kenapa yang Mulia bersedih dan menitikan air mata?" Jodha menatap Moti tak percaya, "yang mulia menitikan air mata? Benarkah Moti? Kau tak salah lihat?" Moti dengan kesal berteriak, " Jodha...!" Jodha dengan lirih memberitahu Moti kalau dia hanya meminta Jalal agar tidak menemuinya dulu. Moti ternganga tak percaya......

Sabtu, 15 November 2014

Nestapa Luruh dalam Cinta by Yanti Ilmi

21.25 ARFARI

Nestapa luruh dalam cinta by Yanti Ilmi.  Di hutan, Jalal memejamkan matanya dan membayangkan kembali saat-saat terakhir dimalam itu dimana dia meluahkan kemarahannya pada Jodha. Kata-kata yang pernah terucap kembali bergema di telinganya ~�beraninya kau mengkhianati suamimu dengan membawa masuk pria itu keruangan mu ratu jodha.. tinggalkan tempat ini sebelum matahari terbit..�~ Dengan nafas yang terasa berat jalal membuka matanya dan berkata, �pantas kau tidak memaafkan aku ratu jodha.. aku bukan saja tidak mempercayaimu tapi aku juga sudah meragukan moral mu.. Ya Allah, mengapa kau biarkan aku melakukan kebodohan yang akan aku sesali seumur hidup ku. Apa lagi yang harus aku lakukan agar ratu Jodha mau memaafkan aku?�

vlcsnap-2014-11-12-20h31m39s251Dari kejauhan seseorang yang mencurigakan sedang memperhatikan gerak gerik jalal. Ditangannya ada busur dan anak panah. Dia tersenyum licik melihat jalal. Dengan penuh percaya diri dia berguman, �aku akan mendapatkan mu kali ini jalal.� seperti pemburu yang mengamati mangsanya dia terlihat tenang dan sabar membidik sasarannya sambil menunggu saat yang tepat untuk melepaskan anak panahnya. #sinopsisjodhaakbra.blogspot.com

Jalal masih larut dalam ingatannya tentang jodha. Dengan senyum kepedihan diwajahnya Jalal berguman, �Ratu jodha aku sudah melakukan banyak hal agar kau memaafkan ku. Aku mencari mu berhari-hari dan meninggalkan semua tanggung jawab ku. Aku menundukkan kepala dan memohon pada mu. Aku mengabaikan harga diri ku. Aku lakukan semuanya untuk membuat mu kembali ke Agra bersama ku. Tapi, semua yang ku perbuat sedikitpun tak menggoyahkan kerasnya hati mu. Kau memberikan setiap orang kesempatan kedua tapi tidak padaku. Aku tahu kau mencintai ku. Aku tahu kau tak dapat hidup tanpa ku. Karena itu hati mu terluka mendengar ucapan ku. Aku meminta mu untuk menghukum ku�.. apapun�.. akan aku terima, tapi ku mohon maafkan lah aku!�

Jalal tidak menyadari ketika anak panah bersarang didadanya, pikirannya masih terpaut pada jodha. Farhad Khan yang melihat kejadian itu berteriak memanggil jalal, �yang mulia...!� Sontak Jalal tersadar dari lamunannya. Rasa sakit mulai menjalari tubuhnya, dia memegang dadanya. Tak lama kemudian, Jalal pun jatuh dari kuda, untuk ada prajurit yang dengan sigap menyambutnya. Farhad Khan berkata, �kita kembali ke amer dan kalian ~sambil menunjuk beberapa prajurit~ cari tahu siapa pelakunya.�

Jodha masih tak percaya kalau jalal telah pergi meninggalkanya. Pipinya basah dengan air mata. Dia menangis tersedu dan berkata, �yang mulia maafkan aku, aku tak bisa kembali bersama mu saat ini. Aku butuh waktu untuk melupakan semua perbuatan mu pada ku. Rasa kecewa yang kurasakan pada mu begitu besar. Kau bukan saja mempertanyakan kesetian ku tapi kau juga telah meragukan moral ku. Tapi mengapa aku masih saja tidak bisa melupakan mu.. dan aku masih saja merindukan mu yang mulia. Ketika kau tidak disini rasanya ada yang hilang di hidup ku.� Jodha masih menangis ketika ibunya datang. Menawati memanggil jodha, dengan cepat ia mengahapus air matanya. Menawati menghampiri Jodha yang berdiri membelakanginya. Sekali lagi, Menawati memanggil nama Jodha. Jodha dengan enggan membalikkan badannya. Menawati berkata dengan nada cemas, �yang mulia raja kembali tapi.. � Menawati tidak meneruskan perkataannya dia menatap Jodha untuk melihat reaksinya. Jodha terlihat seperti tidak percaya sekaligus bahagia. Namun saat melihat raut kecemasan di wajah Menawati, Jodha menjadi tegang dan bertanya, �tapi apa, bu?� Dengan suara bergetar menawati melanjutkan, �yang mulia terluka dan tak sadarkan diri.� Jodha terpaku tak percaya. Dengan hati-hati, Menawati menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Jalal, bagaimana dia telah diserang dihutan waktu akan kembali ke agra.

Nestapa luruh dalam cinta. Jodha melihat Jalal terbaring dikamarnya. Ada banyak tabib disana. Sambil menangis jodha menghampiri Jalal yang tak sadarkan diri. Tabib memberikan penjelasan pada raja bharmal kalau luka jalal terlalu dalam, tapi bukan itu yang mereka cemaskan yang lebih mereka mengkhawatirkan adalah racun di anak panahnya, �kami telah memberikan penawarnya dan kita akan melihat reaksinya besok pagi yang mulia. Kami bersyukur yang mulia raja segera mendapatkan pertolongan. Kalau terlambat akan sulit mengendalikan racunnya.� Raja Bharmal mengucapkan terimakasih pada tabib dan menghampiri jodha yang sedang menagis. Raja Bharmal menyentuh bahu jodha. Jodha melihat ayahnya dan berkata, �aku ingin yang mulia raja diberi pelajaran ayah tapi aku tidak ingin nyawanya dalam bahaya seperti ini.� Jodha menangis tersedu seolah menyesali keinginannya. Menawati menghampiri jodha dan memeluknya sambil berkata, �sudahlah jodha jangan terlalu menyalahkan dirimu. Kita berdoa saja pad Kanha semoga Dia menyelamatkan yang mulia raja.�

Pagi menjelang, tapi Jalal masih belum sadarkan diri. Untuk kesekian kalinya tabib memeriksa keadaan Jalal. Ada kecemasan di wajah mereka. Melihat perubahan itu raja bharmal menghampiri tabib dan bertanya ada apa? Tabib menjawab, �saya tidak tahu yang mulia, seharusnya yang mulia raja sudah sadarkan diri karena kami telah memberikan penawar pada racunnya. Tapi sepertinya tubuh yang mulia raja sendiri yang menolak obat ini yang mulia. Hamba tidak tahu yang mulia. Ini biasanya terjadi pada orang yang tertekan dan frustasi yang mulia.� Raja Bharmal melihat jodha seolah mengerti apa yang dirasakan putrinya. Jodha hanya menangis tertunduk.

vlcsnap-2014-11-10-19h05m39s1Tiba-tiba jodha bangkit dari duduknya dan Jalal mulai menggerakkan jari tangannya tapi luput dari pandangan jodha. Jodha menghampiri jalal yang terbaring dan duduk disampingnya. Sambil menggenggam tangan jalal dan berkata "yang mulia tak ada cinta dihati ku ketika kau menikahiku. Yang ada hanya kebencian. Aku pernah berkata pada dewa dosa apa yang telah aku lakukan sehingga kau bermain dengan takdir ku. Aku harus menghabiskan seluruh sisa hidup ku bersama orang yang paling aku benci. Pernikahan ini tak akan pernah memberikan kebahagian pada ku. Aku benci pada mu, kau tahu aku telah meninggalkan tanah kelahiranku, keluarga dan semua yang akusayangi tapi kau tak pernah memperlakukan aku dengan pantas. Kau selau memperlakukan aku dengan buruk dan membuat ku selalu menderita. Yang mulia, tapi kini hati ku telah berubah - kau lah yang membuatku sadar kalau kau pantas untuk di cintai. Yang mulia dapatkah kau mendengarku? Aku sangat mencintaimu.. tak ada lagi benci dihati ku.. kumohon sadarlah..� Jodha masih dalam tangisannya. Dia terbayang saat pertama kali dia melakukan perjalanan ke ajmer syarif, ketika dia berbagi tenda dengan jalal dan tiba-tiba jalal menarik dupattanya. Dia juga teringat saat jalal membelanya di depan para ulama ketika mereka mengetahui jalal mengunjungi kuil dewi kali dan memaksanya untuk pindah agama. Dan saat jalal melindungi kehormatannya ketika semua penghuni harem mempertanyakan anak siapa yang ada di rahimnya. Jodh aberguman, �Ibu benar, yang mulia. Aku telah membangun dinding pembatas yang tinggi dengan mu yang membuat diri ku sendiri tak mampu memanjatnya saat aku menginginkannya.� Masih dengan menggenggam tangan Jalal, jodha mengulas kembali saat-saat manis bersama jalal. Ketika dia menaiki perahu di bawah bulan purnama, saat mereka ditaman ketika jodha baru sembuh dari racun benazir dan saat mereka melakukan perjalan ke sikri. Jodha berkata liri, �kumohon yang mulia jangan tinggalkan aku!� Jodha terdiam sejenak mengatur getaran di dadanya, �yang mulia kau pernah menanyakan apakah aku merasa kalau dirikulah yang mampu mengerti dirimu, walupun apa yang terjadi dan dalam kesulitan apa pun apakah aku akan selalu ada untuk mendukung mu?, saat itu aku belum bisa menjawabnya yang mulia, sekarang aku mengatakan, iya yang mulia�. aku merasakannya.� Dengan emosional jodha berkata, �kau tahu betapa bahagianya aku ketika kau meminta ku untuk menemani mu mewujudkan semua mimpimu bersama ku. Tapi bagaimana kau akan membuatnya menjadi kenyataan kalau kau tak sadarkan diri yang mulia. Kumohon sadarlah.. jangan kau buat aku menderita lagi. jauh dari mu saja aku tak sanggup bagaimana aku hidup kalau tanpa diri mu yang mulia..� Dengan suara bergetar jodha memohon, �sadarlah.. tak cukupkah alasan ini untuk membuatmu sadar yang mulia..�

Nestapa luruh dalam cinta. Jodha tak mampu mengendalikan dirinya. Tangisnya pecah.. Raja Bharmal, Menawati dan semua yang melihat tak mampu menahan air matanya. Tiba-tiba terdengar suara lirih tapi cukup dia kenalnya berkata, �itu berarti kau mau memaafkan aku dan mau kembali ke agra bersama ku ratu jodha?� Jodha tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jodha menatap Jalal yang matanya terpejam rapat tapi bibirnya mengerimit terbuka. Dengan lega dan gembira Jodha berkata, �yang mulia kau telah sadar..� Masih dengan mata terpejam jalal bertanya lagi, �mengapa kau tak menjawab ku ratu jodha?� Seketika wajah jodha berubah menjadi sangat bahagia. Dia membelai rambut jalal dan berkata, �terima kasih kahna.� Jalal membuka matanya dan tersenyum sambil menantikan jawaban jodha. #sinopsisjopdhaakbar.blogspot.com

Di pagi hari, jalal bangun dari tidurnya. Dia melihat jodha mematung didepan jendela kamarnya. Jalal berdiri dan menghampiri jodh. Dia melingkari kedua tangannya dipinggang jodha secara menyilang. Jodha tersadar dari lamunan dan berusaha melepaskan diri dari pelukan jalal. Tapi jalal berkata, �biarkan aku seperti ini sebentar saja ratu jodha.. kumohon..� Jalal memejamkan matanya dan meletakkan dagunya di bahu jodha, �biarkan aku merasakan kalau ini bukanlah mimpi..� Cukup lama mereka terdiam seperti itu.. lalu jalal berkata, �kau tahu ratu jodha, untuk saat ini aku berterima kasih sekali pada dia yang membuatku terluka seperti ini karena aku punya alasan untuk kembali ke Amer. Kalau aku tidak sekarat mungkin kau tak akan pernah mau mengakui perasaan mu padaku. ku tahu kau mencintai ku tapi mengapa sulit untuk mu mengakuinya.. terimakasih kau telah merubah ku ratu jodha.� Jalal melonggarkan pelukannya tapi jodha dengan cepat memegang kedua tangan jalal, seakan tidak rela jalal melepas pelukannya. Jodha bersandar di bahu jalal dan berkata, �yang mulia, tidak mudah bagi ku mengakui perasaan ini. Butuh waktu lama bagi ku menyadari kalau aku mencintai mu.. terkadang kau baik pada ku, kau melindungi ku dan aku merasa aman bila bersama mu. dan terkadang kau keras pada ku seolah-olah kau membenci ku. kau yang membuat ku meragu dengan apa yang ku rasakan yang mulia.� Jalal menyahut, �kau tahu ratu jodha sejak pertama melihat mu aku telah jatuh cinta pada mu.. Ku tahu kau membenci ku. Karena pada saat itu aku memang pantas untuk kau benci. Tapi cinta ku pada mu telah merubah ku karena itu aku percaya diri cinta ku akan memenangi hatimu..� Jalal memutar tubuh Jodha menghadap padanya. Sebelum jalal melanjutkan ucapannya dia mengangkat dagu jodha dan menatap matanya, �kau belum menjawab pertanyaan ku ratu jodha apakah kau mau kembali ke agra bersama ku?� Tanpa berfikir panjang jodha menganguk pelan dan jalal tersenyum bahagia. Terima kasih ratu jodha. Jalal mengecup kening dan kedua pipi Jodha. Lalu dengan penuh kelembutan Jalal mencoba mengecup bibirnya tapi dengan cepat jodha memeluk jalal dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. Sambil tertawa jalal bertanya, �mengapa kau tidak mengijinkan aku untuk itu ratu jodha.� Jodha tak menjawab tapi pelukannya semakin erat. Jalal mengadu kesakitan. Dengan cemas jodha melepaskan pelukannya dan berkata, �maafkan aku shahensah..� Jalal berkata dengan nada mesra, �mungkin sudah takdir ku harus berdarah-darah untuk mendapatkan mu ratu jodha.� Mereka tersenyum dan tertawa bersama.. Tidak ada lagi duka yang tersisa. Karena nestapa yang ada telah luruh bersama cinta. # Yanti Ilmi

Selasa, 11 November 2014

Anna Diana : Dalam Cinta Ada Kepercayaan

16.02 ARFARI

Dalam Cinta Ada Kepercayaan  by Ana Diana. Jodha telah kembali ke agra lagi, dia telah memaafkan jalal. Malam itu, jodha sedang berdiri didekat jendela,ia memandang rembulan yang bersinar terang, " malam yang indah.."katanya sambil tersenyum. "bahkan sangat indah ratu jodha," sahut jalal sambil memeluk jodha dari belakang. Jodha sedikit terkejut, tapi ia senang jalal menemui nya. Tapi jodha ingin menggoda jalal, "lepaskan aku yang mulia, kau bahkan tidak mempercayaiku.." kata jodha sambil melepaskan pelukan jalal dan merengut ~pura2 marah gitu~

sinopsisjodhaakbar.blogspot.com ffJalal sedih, karna jodha masih marah padanya, "tapi aku sudah minta maaf padamu ratu jodha,"jalal meraih tangan jodha dan menggenggam nya,"aku bahkan sudah berkeliling berhari-hari mencari mu,aku juga telah memohon padamu agar kau mau memaafkan ku.!!Jalal tertunduk sedih. Jodha geli menahan tawa,ia masih mau mengerjai jalal, "tapi tetap saja,kau telah melukai harga diriku dengan tidak mempercayaiku seperti itu."kata jodha dengan ekspresi yang dibuat segalak mungkin, "lalu apa yang harus aku lakukan, agar kau mau memaafkan ku dengan tulus ratu jodha, "jalal menatap jodha dengan tatapan memohon.

Jodha tertawa, senang karna berhasil mengerjai jalal,melihat jodha tertawa seperti itu jalal bingung, "ada apa ratu jodha,kenapa kau tertawa?"tanya nya.  "kau sangat lucu yang mulia,!!" jawab jodha,ia mencubit pipi jalal dengan gemas, "biasa nya kau yang selalu menggoda ku,tapi lihat,kali ini aku yang mengerjai mu dan aku berhasil menggodamu.."lanjut jodha. Jalas terpana,tak percaya jodha mengerjai nya,lalu dia menggelitik jodha, "kau harus di hukum ratu jodha,karna kau telah bersalah mengerjai raja.." jodha kegelian dan berlari menghindari jalal yang terus menggelitik nya. " tidak yang mulia,ampuni hamba,jangan hukum hamba.."jodha terus berlari, tapi jalal tetap mengejar nya, mereka tertawa bahagia karna bisa saling menggoda seperti dulu lagi

Akhirnya jodha terpojok,dia tidak bisa menghindar lagi, "sekarang kau tak bisa menghindar lagi ratu jodha,kau tertangkap.."kata jalal sambil mengelus pipi jodha, jodha tersipu malu ia tertunduk tak mampu menatap jalal. Kini jalal yang iseng mau mengerjai jodha, dia menyentuh dagu jodha dan mengangkat wajahnya, jalal menatap jodha dengan lembut, bahkan bisa dibilang tatapan mesra, ia melingkarkan tangan kiri nya di pinggang jodha, merasakan tubuh jalal yang begitu dekat dengan nya, jodha merinding dan menjadi kaku, dada nya berdegup kencang, nafas nya memburu, "yang mulia..."jodha berbisik dengan bibir bergetar, tp jalal tak peduli, ia terus mendekat kan wajah nya ke wajah jodha, ia juga merasakan jantung nya yang berdegup kencang, nafas nya juga memburu ,tapi ia menahan nya sekuat tenaga agar tetap tenang, karna dia hanya ingin menggoda jodha.."diam lah ratu jodha,aku tau kau juga menginginkan nya,"jodha memejamkan mata nya erat-erat ketika bibir jalal sudah sangat dekat dengan bibir nya. Jodha merasakan hembusan nafas jalal menerpa wajah nya, jalal tersenyum menang karena ia berhasil.

Sedikit lagi bibir jalal akan mengecup bibir jodha, jalal beralih kesamping, dan berbisik di telinga jodha, " mengapa kau seperti ketakutan ratu jodha, "bisik jalal, "apa kau pikir aku akan mencium mu,tidak ratu jodha aku hanya menggoda mu dan aku juga berhasil.."kata nya sambil tertawa mengekeh.  Jodha terbelalak kesal, dia memukul-mukul dada jalal, "kau jahat yang mulia, kau jahat.."rajuk jodha. Jalal masih dengan tertawa memeluk jodha, "terima kasih jodha,kau telah mau memaafkan ku..!!"ujar jalal. Jodha pun balas memeluk jalal, "iya yang mulia,terima kasih juga anda telah mempercayai ku.."jalal mengecup kening jodha mesra, "karna mu aku sadar ratu jodha, sebuah hubungan ,baik itu persahaban ataupun cinta harus didasari dengan kepercayaan."  Jalal kembali memeluk jodha dengan sangat erat seakan tak ingin jodha lepas dari pelukan nya lagi. Jodha pun balas memeluk jalal dengan erat. Moti yang mengintip dari luar juga terlihat bahagia, "terima kasih dewa khrisna, kau telah membuat jodha ku tersenyum kembali." moti  menitik kan air mata sangking bahagia nya..

Senin, 10 November 2014

Pertemuan Pertama by Faulina genafa

04.30 ARFARI

Pertemuan Pertama" by Faulina genafa. Semua orang dikerajaan amer sedang sibuk mempersiap kan perayaan ulang tahun rajkumari jodha bai!jodha adalah putri tertua Raja Bharmal & ratu mhenawati,jodha adalah seorang putri yang sangat terkenal akan kecantikan nya,tapi yang spesial pada ulang tahun kali ini adalah ulang tahun yang disertai sayembara dalam mencarikan suami untuk sang putri. sementara itu ditengah kesibukan semua orang jodha bai tengah dihias oleh pelayan setia yg sudah dianggap seperti saudaranya sendiri Moti Bai.
sinopsisjodhaakbar.blogspot.com182f"jodha kau sungguh cantik luar biasa,semua pangeran akan berebut memenangkan sayembara untuk bisa memperistrimu!!ujar moti sambil menatap takjub akan kecantikan jodha
" Moti kau terlalu berlebihan memujiku"ujar jodha sambil tersipu malu.
"tapi moti aku sangat takut bagaimana kalau jalal dari kerajaan ,mughal jg mengikuti sayembara ini!!
"itu tidak mungkin jodha dia adalah raja yang terkenal angkuh & arogan bagi nya tidak penting sayembara dikerajaan Amer!jwb Moti
"ya kuharap begitu moti,dia tidk datang!walaupun aku sedikit cemas karena babusha mengirimkn semua undangan keseluruh kerajaan diindia"
"karena sejak tentara nya merampas & menghancurkan mandir waktu itu kebencian ku telah berakar padanya moti"ujar jodha dg berapi api.
"jodha segeralah turun kalau kau sudah selesai berhias karena para pangeran dr kerajaan india sudah mulai berdatangan"ujar Ratu mheinawati.
"ya bu aku segera turun"
jodha segera keluar menuju aula perayaan disana telah banyak para pangeran yg telah hadir.dia duduk disebelah ibu nya tidak jauh dari tempat nya adik" ny sukanya & shivani melihat nya dengan kagum.
"kak jodha sangat cantik"
"iya shivani,tidak ada yg mengalahkan kecantikan kak jodha"

Sementara itu sayembara telah dimulai..
"terimakasih yang telah hadir memenuhi undangan dari kerajaan ameer,kali ini diperayaan ulang tahun putri kami jodha bai kami mengadakan sayembara siapa yang bisa memanah apel ini sehingga terbelah dua sama persis dia berhak menjadi suami dari putri ku"ujar raja Bharmal. Mendengar semua itu para pangeran jadi sangat antusias & berambisi untuk memenangkan sayembara. Satu persatu para pangeran berusaha memanah dengan tepat tapi tidak ada satupun yang bisa membelah apel jd dua bagian.
"Moti bagaimana ini,kalau tidak ada satupun yang bisa memanah nya apakah itu artinya aku tidak akan mendapatkan suami"
"percayalah jodha pasti ada satu pangeran ataupun raja yang bisa membidik apel itu dg tepat"ujar moti menenangkn jodha.
"Kahna tolonglah aku..."ujar jodha risau
diantara para pangeran & raja yang mengikuti sayembara tersebut ada jalal yang hadir.
"aku pasti bisa mendapatkanmu putri amer" ujar jalal berambisi
"tidak ada satupun yang aku inginkan tidak tercapai,setelah kudapatkan kau akan kujadikan istri sekaligus pelayan ku"seringai jalal dg kejam.
"yang mulia sekarang giliran anda yang memanah"ujar atgah khan
dari kejauhan jodha melihat jalal yang sedang memanah.
"siapa dia,pangeran dari kerajaan mana!ujar jodha
"jodha lihatlah pangeran itu dia sangat tampan semoga dia bisa memanah dg tepat"bisik moti dr belakang jodha.
"iya moti kuharap dia bisa memanah dg tepat karena dia adalah peserta sayembara yg terahir"
sementara itu Raja Bharmal sangat cemas dr wajah nya terpancar kekhawatiran.
"ini salahku kenapa menyebar undangan keseluruh kerajaan diindia,seharusnya aku hanya mengundang raja dari rajput saja"ucap raja bharmal menyesali
"ya tuhan,dewi amba tolonglah semoga panah itu meleset"ujar meinawati dalam hati.
"kahna semoga dia orang yang tepat yang kau kirim untuk ku"ucap jodha sambil berdoa
Dannnn.....
jlebbbb panahpun membelah apel dengan tepat sasaran terbelah jadi dua sama persis.
jodha tersenyum senang"terimakasih kahna"
"benarkan jodha kau hrs percaya pd kahna,dia sgt tampan jodha"ujar moti
"dia sangat pantas jadi suamimu"
"hahhhhh"seru meinawati sambil menutup mulut nya melihat panah yang tepat sasaran.
"ya tuhan"seru raj Bharmal cemas
"ahirnya aku memenangkanmu putri amer"seringai jalal penuh kemenangan.
"kau akan segera jadi milikku & juga melayani semua perintah ku"jalal tersenyum sinis.
"hidup yang mulia jalalaludin muhammad akbar!!seru pengawal nya dr belakang
"hidup yang mulia jalalludin"berkali kali mereka mengeelu2 kan nama jalal.
"Aapppaaaa"seru jodha tidak percaya
"apa yang aku dengar moti"
"apa ini moti,apakah aku bermimpi"ujar jodha sambil menampar muka nya berkali kali.
"jawab aku moti!!"jodha mengguncang bahu moti
"kau tidak bermimpi jodha,kalau aku tau dia raja jalal aku tidak akan berdo'a untuk nya"ujar moti sedih mendengar itu jodha langsung lemas & terjatuh pinsan.

Minggu, 09 November 2014

Membeku dalam Duka bag 2 - FF Jodha Akbar by Kay Elle

21.16 ARFARI

Membeku dalam Duka bag 2 - FF Jodha Akbar by Kay Elle. Jodha duduk di depan patung Kanha. Dia menyanyikan Bhajan, tapi di tengah-tengah dia berhenti. Jodha lupa liriknya. Sepanjang eksistensinya, belum pernah dia seperti ini.  Jodha menangis. Kegalauan dan dilema telah menggerogoti hatinya dan menyita pikirannya. Jodha berkata pada Kanha, "Kanha...apa yang terjadi padaku? AKu tahu Yang Mulia tidak bermaksud menyakitiku. Kenapa aku tak bisa memaafkannya dan melupakan semua sandiwaranya begitu saja? Kenapa aku terluka Kanha? Kenapa  aku tak bisa menerimanya? Setiap kali aku melihat dia, hatiku terasa sakit sekali. Seperti ada sembilu yang menusuk-nusuk hatiku. Seperti ada tangan kasar yang mencengkeram dadaku, mebuatku sulit bernafas.  Bantu aku kanha.... bantu aku membuang rasa sakit ini. AKu tak ingin menyakiti yang Mulia, tapi aku tak tahu harus bagaimana..." Johda menangis tersedu-sedu dengan kepala menyentuh kaki kanha.

sinopsisjodhaakbar.blogspot.com fansfictionaMoti mendegar keluhan Jodha. Dengan sedih moti menghampiri Jodha dan menyentuh pundaknya sambil berkata, "tenangkan hatimu, Jodha.. waktu akan menyembuhkannya." Jodha menatap moti, "tapi sampai kapan Moti? Aku tak ingin seperti ini.... " Jodha menyandarkan kepalanya di pundak Moti, "Mungkin aku harus pergi dari sini, Moti..." Moti bertanya, "kemana Jodha? Yang mulia tidak akan mengizinkan. " Jodha dengan sedih berkata kalau hanya itu cara satu-satunya. Mungkin jauh dari yang mulia akan mengembalikan perasaannya. Moti tidak setuju. Bagaimanapun, lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, tapi malah akan menciptakan masalah baru.

Terdengar pengumuman kalau Hamida datang. Jodha cepat-cepat menghapus air matanya dan berdiri menyambut hamida. Jodha memberi salam, hamida memberkatinya. Hamida berkata kalau sudah lama jalal tidak pergi ziarah ke Ajmer Sharif. Yang terakhir dia pergi kesana adalah saat mereka baru menikah dulu. Hamida ingin Jodha dan Jalal pergi berziarah kesana. Untuk berdoa dan mencari berkah. Jodha terasa lemas mendengarnya. Dia ingin menjauhi jalal, malah kini harus menemaninya. Jodha tidak tahu harus berkata apa. Lagi pula hamida bukan meminta persetujuannya tapi menyuruhnya. Melihat Jodha hanya terdiam, Hamida mendekati Jodha, menyentuh pipi menantu kesayangannya dan berkata, "kenapa nak? apakah kau baik-baik saja?" Johda mengangguk, "ya, ibu. AKu hanya sedikit lelah saja." Hamida mencium kening Jodha dan menyuruhnya istirahat. Hamida lalu beranjak pergi.

Jodha segera menghampiri Moti, memegang tangannya dan berkata, "bagaimana ini Moti? Ibu ingin aku menemani Yang mulia berziarah. Aku tak bisa menolaknya..." Moti diam berpikir. Tak lama kemudian dia berkata, "kau bisa minta tolong Ratu Ruqaiya. Dia pasti sangat senang kalau di minta menemani yang mulia."  Jodha tersenyum sumringah mendengar saran Moti. Tanpa membuang waktu lagi, Jodha segera bergegas menemui Ruqaiya di kamarnya.

Jodha mendatangi kamar Ruqaiya, tanpa pengumuman dia segera masuk. Tapi di pintu Jodha menghentikan langkahnya. Dia melihat Jalal dan Ruqaiya sedang berpelukan mesra. Jodha berdiri terpaku. Jalal melihat kedatangan Jodha, dengan salah tingkah dia melepas pelukan Ruqaiya. Ruqaiya merasa senang Jodha memergoki kemesraan mereka. Jodha terlihat pucat, tapi dengan suara tenang, dia meminta maaf dan berkata akan berkunjung lain kali. Jalal hendak mengejar Jodha, tapi Ruq menarik tangannya.

Jodha melangkah tergesa-gesa. Tiba-tiba dia merasakan sakit menyengat di perutnya. Jodha menghentikan langkahnya, menghirup udara perlahan, lalu menghembuskannya. Beberapa kali dia melakukan itu, hingga di rasakan nyeri di perutnya berkurang. Jodha melanjutkan langkahnya kembali ke kamar. Moti yang melihat Jodha sudah kembali, bertanya dengan heran, "cepat sekali? Apa kata ratu Ruqaiya?" Jodha menatap Moti tanpa bicara apa-apa. Moti melihat wajah Jodha yang pucat menjadi khawatir. Moti bertanya, "kau kenapa Jodha?" Jodha hanya menggelengkan kepala.

Jodha tak tahu harus berkata apa. Dia merasa takut dengan apa yang di rasakannya. Saat dia melihat Jalal dan Ruqaiya, bukan lagi rasa cemburu yang muncul di hatinya. Tapi rasa lega. Lega karena ada orang lain yang memperhatikan jalal dan memenuhi kebutuhannya. Lega karena itu artinya dirinya akan terbebas dari rasa bersalah. Lega karena tak perlu berlari menghindar darinya. Perasaan lega yang membuatnya takut. Karena dalam pikirannya dia mempertanyakan kemana perginya rasa itu? Rasa yang pernah membuatnya terluka dan cemburu buta. Rasa yang pernah membuatnya kecewa dan merana...

Terdengar pengumuman kalau Jalal datang. Jodha dengan cepat berkelebat dan sembuyi di balik kelambu. Moti melihatnya dengan heran, Jodha memberi isyarat dengan meletakkan jari di depan bibirnya. Jalal yang melihat moti bertanya Jodha kemana? Moti dengan sedikit gugup menjawab, kalau Jodha pergi keluar. Jalal kemudian berpesan, agar menyuruh Jodha menemuinya setelah dia datang. Dia akan menunggu Jodha di kamarnya. Moti mengangguk. Jalal memandang Moti sekali lagi sebelum melangkah pergi.

Setelah Jalal pergi, Moti segera menghampiri Jodha yang masih berada di tempat persembunyiannya. Moti melihat Jodha berdiri terpaku dengan tatapan kosong. Moti dengan lembut memanggilnya, "Jodha..."

Membeku dalam Duka bag 1 - FF Jodha Akbar by Kay Elle

19.30 ARFARI
Membeku dalam Duka bag 1 - FF Jodha Akbar by Kay Elle.  Jalal boleh saja minta maaf pada  Ruqaiya atau siapa saja yang di sakitinya, tapi tidak mudah bagi Jodha untuk memaafkannya. Rasa sakit, kecewa, merana, tidak bisa lenyap begitu saja dari hatinya. Setiap kali dia melihat jalal, dia teringat perlakuannya. Meskipun itu hanya sandiwara, tapi luka  yang di torehkannya sangat nyata. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Jodha lebih suka menghindari pertemuan dengan jalal. Tidak ingin bicara dengannya apalagi berduaan. Jalal frustasi di perlakukan seperti itu oleh Jodha.  Hatinya tidak terima. Dia tidak merasa berbuat salah, apa yang di lakukannya adalah untuk melindungi Jodha. Jika yang lain bisa menerima alasannya dan memaafkan dia, kenapa Jodha tidak bisa?
sinopsisjodhaakbar.blogspot.com fansfictionaJalal menemui Jodha di kamarnya tanpa pengumuman. Jodha sedang berdiri di jendela menatap rembulan yang bersembunyi di balik awan. Jalal menghampiri Jodha dan memeluk pinggangya dari belakang. Tubuh Jodha menegang seketika. Dadanya berdebar kencang. Jalal mencium leher Jodha dan berbisik, "aku merindukanmu, ratu Jodha." Jodha bingung untuk menentukan sikap, antara keinginan untuk melepaskan diri dari Jalal dan rasa takut membuat jalal marah karena penolakannya. Johda memejamkan mata dalam resah. Sentuhan jalal membuatnya merinding.  Dia tidak merasakan kesenangan seperti yang dulu-dulu dirasakannya setiap kali Jalal menyentuhnya. Kini yang dia rasakan hanya rasa muak. Jalal membalikan tubuh Jodha menghadap kearahnya. Jodha menundukan wajah tak mau menatap jalal. Kening mereka beradu.  jalal hendak mencium Jodha, tapi Jodha menarik wajahnya dengan cepat dan melangkah mundur. Jalal menatapnya dengan tatapan terluka. Dia tahu Jodha marah. Tapi dia tidak menyangkah kalau Jodha akan menolaknya. Penolakan Jodha selalu saja membuat dadanya sakit.
"Kenapa ini, Ratu Jodha?" Jalal maju mendekati Jodha. Jodha melangkah mundur. Jalal segera meraih pinggang Jodha dan menghimpit tubuhnya, "kenapa kau menolakku? Apa salahku?"
Jodha mendorong dada jalal dengan kedua tangannya, jalal semakin mempererat pelukannya di pinggang Jodha, "yang mulia, kau menyakitiku..." Jalal dengan suara bergetar bertanya, "kenapa kau menghindari aku? Apakah belum cukup permintaan maafku? Aku melakukan itu semua demi melindungi mu dan bayi kita. Agar musuh terkecoh dan tidak mengganggu kalian."
Jodha menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelah agak tenang dia berkata, "aku tahu, yang mulia. Tapi ku mohon beri aku waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku. AKu merasa...."
Jalal menatap Jodha dengan mesra, "apa yang kau rasakan?"
"Aku....~Jodha mehirup nafas lagi, menahanya sebentar dan melepaskannya perlahan~ aku merasa sangat lelah. Bolehkan aku beristirahat?" ucap Jodha. Jalal menatap Jodha dengan tatapan menyelidik. Entah mengapa dia merasa bahwa bukan kalimat itu yang ingin di katakan Jodha. Tapi Jalal tidak ingin mempersulitnya. Jalal mencium kening Jodha dan membimbingnya ke tempat tidur. Jalal membaringkan tubuh Jodha di ranjang dan menyelimutinya. Jalal berdiri lama di tepi ranjang. Berharap Jodha akan menarik tanganya dan mengajaknya tidur di sampingnya. Harapan tinggal harapan. Karena begitu kepalanya menyentuh bantal, Jodha segera memejamkan mata. Jalal dengan kecewa pergi meninggalkannya.
Sepeninggal jalal, Jodha membuka matanya. Hatinya terasa sangat galau. Di satu sisi dia tak ingin membuat Jalal kecewa tapi di sisi lain dia merasa tidak ingin di dekatinya. DIlema itu menyiksanya. Tapi dia tak tahu harus bagaimana.  Hanya satu yang pasti, jika mereka tetap bersama, akan ada lagi hati yang tersakiti....

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *